Bencana ekologis yang menghantam bagian barat Indonesia mencapai titik puncaknya pada Desember 2025. Hujan dengan intensitas ekstrem memicu banjir bandang dan tanah longsor masif di tiga provinsi utama: Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Berdasarkan data terbaru yang dihimpun dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per Jumat, 19 Desember 2025, angka korban jiwa banjir Sumatera kini telah menembus angka 1.068 orang.
Kenaikan angka ini terjadi seiring ditemukannya beberapa jasad tertimbun material longsor di wilayah Tapanuli dan Aceh. Selain kehilangan nyawa, laporan berita Sumbar terupdate menyebutkan ribuan warga masih bertahan di pengungsian dengan kondisi fasilitas yang mulai terbatas. Pencarian terhadap 190 warga yang dinyatakan hilang terus dilakukan oleh tim SAR gabungan di tengah ancaman cuaca yang belum sepenuhnya stabil.
Sebaran Titik Merah dan Data Korban Per Wilayah
Skala kerusakan kali ini disebut-sebut sebagai salah satu yang terdahsyat dalam satu dekade terakhir. Berikut adalah rincian data korban meninggal dunia per wilayah terdampak :
| Provinsi | Jumlah Korban Jiwa | Warga Hilang |
| Aceh | 431 orang | 31 orang |
| Sumatera Utara | 364 orang | 75 orang |
| Sumatera Barat | 273 orang | 84 orang |
Meningkatnya angka korban jiwa banjir Sumatera di wilayah Sumatera Barat dipicu oleh banjir lahar dingin dan longsor susulan di kawasan sekitar Gunung Marapi. Kabupaten Agam dan Padang Pariaman menjadi titik paling parah, di mana akses jalan nasional sempat terputus total. Melalui berita Sumbar terupdate hari ini, dilaporkan pula bahwa Presiden Prabowo Subianto telah meninjau langsung jembatan Bailey di Padang Mantuang guna memastikan jalur logistik bagi para penyintas segera pulih.
Kondisi Lapangan dan Upaya Mitigasi
Pemerintah melalui BMKG kini sedang menggencarkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) guna memecah awan hujan di Samudra Hindia sebelum masuk ke daratan. Langkah ini krusial mengingat tingginya korban jiwa banjir Sumatera akibat terjangan air bah yang datang tiba-tiba pada malam hari. Di sisi lain, Kementerian Perumahan telah menyiapkan skema Rumah Instan Sederhana Sehat (RISHA) bagi warga kehilangan tempat tinggal.
Namun, kendala di lapangan tetaplah nyata. Di Tapanuli Tengah, listrik belum sepenuhnya menyala dan stok logistik mulai menipis. Sementara itu, berita Sumbar terupdate mengonfirmasi ada sekitar 147 ribu rumah mengalami kerusakan, mulai dari tingkat ringan hingga roboh total. Penanganan pascabencana tidak hanya fokus pada evakuasi, tetapi juga pemulihan trauma bagi keluarga korban meninggal dunia.
Faktor Lingkungan : Bukan Sekadar Hujan
Para ahli meteorologi menyebutkan fenomena ini terjadi akibat kombinasi anomali cuaca dan kerusakan daya serap lahan. Banyaknya korban jiwa banjir Sumatera menjadi pengingat pahit mengenai pentingnya menjaga ekosistem hutan di sepanjang Bukit Barisan. Tanpa perbaikan lingkungan yang fundamental, curah hujan tinggi akan selalu menjadi ancaman mematikan bagi penduduk di kaki perbukitan.
Bagi anda yang ingin memantau perkembangan evakuasi dan donasi, pastikan selalu menyimak berita Sumbar terupdate melalui saluran resmi pemerintah dan lembaga kemanusiaan terpercaya. Solidaritas nasional saat ini sangat dibutuhkan untuk membantu saudara-saudara kita bangkit dari lumpur bencana.
